2.11 Miracles of Fasting: Autophagy

Nellie R. Ortiz

Pada postingan sebelumnya (two.10 Miracles of Fasting: Intermittent Fasting), saya sudah membahas sekilas mengenai berbagai reward dari Fasting, yang tentu sebagian dari kita, termasuk saya pada awalnya, tidak percaya. Mosokk sehhh… orang kelaparan kok malah bisa dapat reward seperti itu??? Asumsi saja deh semua reward itu tidak kita peroleh karena […]

Pada postingan sebelumnya (two.10 Miracles of Fasting: Intermittent Fasting), saya sudah membahas sekilas mengenai berbagai reward dari Fasting, yang tentu sebagian dari kita, termasuk saya pada awalnya, tidak percaya. Mosokk sehhh… orang kelaparan kok malah bisa dapat reward seperti itu???

Asumsi saja deh semua reward itu tidak kita peroleh karena peneliti asal cuap, akan tetapi ada satu hasil penelitian yang oleh karenanya memperoleh Hadiah Nobel 2016 yang paling tidak perlu kita simak yaitu Autophagy ini.

So let’s discuss about Authophagy… apaan itu?

Autophagy adalah proses regenerasi alami yang muncul pada amount sel di tubuh kita dengan membuang komponen sel yang tidak diperlukan atau sudah tidak berfungsi lagi. Proses regenerasi ini terjadi ketika tubuh mengalami kondisi kekurangan gula atau ketika ketosis sebagai akibat kita berpuasa.

Istilah Autophagy sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1963 oleh biochemist Christian de Duve dari Belgia, namun menjadi sangat popular setelah seorang biologist dari Jepang, Mr. Yoshinori Ohsumi memperoleh penghargaan paling bergengsi sedunia yaitu Nobel Prize 2016 in Physiology or Medication. Prize commitment: “for his discoveries of mechanisms for autophagy” atas penelitian dan penemuannya mengenai mekanisme Autophagy. Jadi baru beberapa tahun yang lalu lho, masih hangat.

Dan sejak itu perusahaan2 obat dan para peneliti berlomba2 mencari obat yang bisa menstimulasi proses autophagy ini. Para ahli diet serta kesehatan juga beramai-ramai mengclaim seakan-akan mereka paling ahli mengenai fasting, termasuk saya… bwakakak…

Tapi jangan khawatir, seperti janji saya, saya akan bercerita apa yg saya alami, bukan bicara teori.

Kata autophagy sendiri berasal dari Bahasa Yunani, yakni “automobile” berarti self / sendiri, dan “phagein” berarti “makan”, sehingga secara keseluruhan autophagy berarti “makan diri sendiri”… wuihhhh sereemmmm… ngeri ya… 😝😝😝

Mengapa demikian?

Pada saat tubuh mengalami “kekurangan makanan” akibat kita berpuasa, maka tubuh akan mengolah / memakan sel2 tubuh yang rusak, dan pada saat yang sama juga memperbaiki / meregenerasi sel2 rusak tersebut, termasuk sel2 otak.

Autophagy Benefits

*Terjemahin sendiri yaaaa… xixixi… pakai Google Translate aja… wkwkwk…

Oleh sebab itu dipercaya bahwa autophagy memperlambat proses penuaan, menghindarkan kita dari penyakit2 yang berhubungan dengan penyakit2 neogenerative seperti halnya Parkinson, Alzheimer, serta meningkatkan kemampuan fungsional alami tubuh kita…

Bahkan di salah satu Youtube yang saya lihat, salah satu treatment yg diberikan ke penderita Autis adalah fasting ini. Luar biasa kan??

Bagaimana saya tidak terperangah?

Tentu pembaca mengatakan… ahhhh itu kan katanyaaaaa…

Iya sihhh… tapi yang mengatakan itu adalah peneliti yang oleh karenanya memperoleh hadiah NOBEL, dan kita tahu tidak sembarang peneliti bisa memperoleh NOBEL, even Indonesia belum punya one Nobelist, jadi bukan hanya peneliti pinggir jalan atau orang yang asal cuap.

Make feeling dong kalau kita examine lebih dalam, betul tidak?

Nah berdasarkan penelitian, fase autophagy ini terjadi pada tubuh kita, saat Glycogen di liver kita habis, yakni sekitar twelve – 16 jam setelah kita puasa. Namun kapan sebenarnya proses Autophagy ini berawal, mencapai puncak dan berakhir, masih menjadi penelitian para ahli.

Salah seorang peneliti yang cukup terkenal, yang sering mengangkat issue2 seputar akibat buruk konsumsi Carbohydrate, yakni Dr. Jason Fung, mengatakan begini “” transpires “probably in the later on phases of a prolonged speedy — somewhere all around 20 to 24 several hours, is my guess, and it likely maxes out somewhere all around 32 several hours, once again is my greatest guess.” Terjemahan bebasnya:”terjadi, mungkin di bagian akhir dari puasa panjang – kurang lebih sekitar 20 hingga 24 jam, itu perkiraan saya, dan mungkin mencapai maximum sektiar 32 jam, sekali lagi itu tebakan terbaik saya“.

Penelitian demi penelitian masih terus dilakukan untuk mempelajari lebih dalam mengenai Autophagy ini, pembaca yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam bisa mengexplore sendiri agar semakin yakin jika nanti hendak mencoba IF atau PF ini.

Inilah bahan bakar yang membuat saya menggali dan menggali tidak habis2nya mengenai Fasting ini.

Selanjutnya pada postingan berikutnya saya akan membahas bagaimana cara menjalani IF dan pentingnya settingan state of mind agak kita bisa menjalaninya secara konsisten dan bahkan menjadikannya sebagai New LifeStyle…2.twelve Miracles of Fasting: IF & State of mind

Salam,

Guntur Gozali,

https://www.gunturgozali.com

Jakarta, Kebon Jeruk,

Minggu, twelve Juli 2020, 13:forty

*** Distinctive Be aware ***

Pricey Pembaca terkasih,

Terima kasih telah bersedia membaca postingan saya di atas. Saya sangat berharap pembaca bersedia menuliskan komentar, komentar apapun juga, atau hanya  sekedar LIKE. Komentar pembaca penting buat saya untuk meningkatkan kwalitas tulisan saya, dan akan sangat menguatkan bagi pembaca2 lain. Mari kita saling berbagi agar semakin banyak teman2 lain yang bisa mengalami hidup sehat dan panjang umur…

***000ooo000***

Next Post

Top 5 FC Bayern Munich Podcasts You Must Follow in 2020

Major 5 FC Bayern Munich Podcasts Contents [demonstrate] ⋅About this checklist & position FC Bayern Munich Podcasts Bavarian Football Operates Super Bayern Podcast MiasanMia FC Bayern Enthusiast Podcast Bayern Unplugged Submit Weblog Do you want additional website traffic, qualified prospects, and revenue? Submit your website down below if you want to develop […]

Subscribe US Now